Jumat, 03 Februari 2012

PUTRI BELEKA (4)


Di Sumbawa semua ilmu yang diperolehnya diamalkan kepada masyarakat. Dang mulai belajar hidup mandiri. Pagi-pagi dia harus pergi mengajar di sekolah, sedangkan sore dia harus mengajar mengaji dan ilmu agama kepada anak – anak di kampungnya. Hingga suatu hari dia berniat untuk membangun masjid dan tempat khusus belajar ngaji dan ilmu agama bagi anak – anak disana. Dengan kerja keras dan bantuan dari keluarga serta masyarakat setempat dia berhasil menggapai impiannya. Di tempat itu banyak orangtua dari beberapa desa yang menitipkan anaknya untuk belajar ngaji dan mengkaji ilmu agama. Ternyata kesibukan tersebut membuat diri seorang Dang telah mampu menguasai separuh dari isi al – Qur’an dan banyak hadits yang dihafalnya. Dia bersyukur kepada Allah atas nikmat yang ia terima selama ini, sungguh tak ternilai harganya.
            Mustafa dan Hadijah selaku orangtua Dang segera ingin menimang cucu dari keturunan Dang. Merekapun mendesak agar Dang segera menikah. Tiap malam Dang selalu mendengar pertanyaan yang sama dari kedua orangtuanya bahwa kapan Dang mau menikah.
            “Nak, kapan kamu menikah? Coba kamu lihat teman – teman seusiamu sudah pada nikah semua. Kalau susah cari pasangan, ntar Ua’ dan Ma’ yang carikan”, kata Ayahnya dengan penuh harapan.
            “Tidak perlu Ua’ dan Ma’ carikan karena Nanda sudah jatuh cinta pada wanita yang sampai mati Nanda tak akan bisa melupakannya. Dialah yang menjaga hati ini, dan Nanda akan selalu mencintainya”, jelas Dang dengan tetesan airmata.
            “Maksud kamu Habibah?”, Tanya Ua’.
            “Ya, hanya dia yang mampu meluluhkan hati ini, dia adalah wanita yang Nanda impikan, dia adalah tujuan hidup Nanda, dia telah mengunci hati ini untuk tidak menerima cinta lain. Jadi Nanda mohon jangan paksa Nanda untuk melupakannya, Nanda mohon!”, jawabnya dengan cucuran airmata.
            Kedua orangtua itupun tak bisa memaksa kehendak anaknya agar bisa melupakan Habibah. Akhirnya kedua orangtua itu mencari cara lain agar Dang bisa melupakan Habibah dan mau menikah dengan wanita lain. Mereka mencari sepupu atau keluarga terdekat yang masih memiliki anak perempuan untuk memikat hati Dang agar mau menikahinya. Kebetulan waktu itu ada satu keluarga dari pihak Ma’ yang masih memiliki anak perempuan. Anak itu bernama Dewi Disamping itu dari pihak Ua’ ada juga yang masih memiliki anak perempuan. Anak itu bernama Liska. Orangtua Dang dan orangtua kedua keluarga tersebut menyetujui karena kedua keluarga tersebut menunggu hari itu datang agar anaknya dinikahkan dengan Dang. Liska dan Dewipun mulai berlomba untuk mendapatkan hati Dang.
            Liska adalah sepupu Dang yang pernah bermain bersamanya ketika berumur 5 tahun setelah itu mereka berpisah dan bertemu kembali ketika Dang sedang duduk santai depan rumahnya. Ketika itu Dang pulang liburan setelah Ujian Akhir Semester di IAIN Mataram. Sedangkan Dewi adalah sepupunya yang dari kecil sering bermain dengannya. Kini kedua gadis itu dihadapkan dengan masalah bagaimana caranya untuk memikat hati seorang Dang agar mau menikahinya. Liska adalah sosok wanita lugu yang kerjaannya hanya bisa diam dan takut melakukan sesuatu ketika bertemu dengan Dang. Sementara Dewi adalah sosok wanita periang dan suka jalan – jalan sehingga dengan sikapnya seperti itu Dang sering diajak keluar jalan – jalan tuk mencari udara segar.
            Tak terasa waktu telah berjalan 3 bulan namun kerja kedua anak itu belum membuahkan hasil. Hingga suatu malam Dang mengundang Dewi dan Liska untuk sholat Subuh berjama’ah dimasjidnya. Kebetulan hari itu tepat tanggal 7 Oktober 2012. Setelah selesai sholat Dang menghampiri kedua anak itu.
            “Liska,,,Dewi,,, kalian pernah jatuh cinta dan pernah merasakan indahnya kebahagiaan bersama orang yang kalian cintai. Aku hanyalah seorang pecinta yang tak mampu menggapai cintaku. Ku tahu dia tercipta bukan untukku. Tapi sedetikpun hati ini tak sanggup melupakannya. Di depan kalian dan demi tempat yang mulia ini aku akan selalu mencintainya dan begitu rindu akan hadirnya disepanjang hidupku. Hati ini tak bisa menerima cinta lain kecuali cinta seorang Habibah, wanita yang tak akan bisa kalian ganti posisinya dihatiku”, ujar Dang sambil memukul dadanya.
Sejenak suasana terdiam. Liska dan Dewi terpaku sambil terharu dengar kata – kata dari kakak misannya itu. Liska dan Dewi ikut menangis melihat sosok kakaknya yang begitu teguh pada pendiriannya untuk selalu mencintai Habibahnya.
            “Apa keistimewaan seorang Habibah sehingga kakak tidak bisa melupakannya dan sungguh mengharapkan dialah pasangan hidup kakak?”, Tanya Dewi dengan suara sendu.
            “Benar kau ingin tahu tentang dia?”, Tanya Dang kembali.
            “Benar kak!”. Sahutnya
            Dangpun memulai ceritanya.
            Hari itu…
            Dengan hati yang tenang ku berjalan menuju kampus yang merupakan sekolah baruku yaitu IAIN Mataram. Waktu itu aku akan mengikuti tes wawancara yang merupakan syarat untuk bisa masuk diperguruan itu. Hari itu ku berkenalan dengan dua anak kembar keturunan Bima yang secara kebetulan satu ruangan tes denganku. Namanya Habibi dan Habib. Ternyata Tuhan memberkati pertemuan itu karena sepanjang aku sekolah di Mataram mereka banyak membantuku baik dari segi materil maupun moril.
Ketika itu kita bertiga sedang duduk dekat tangga gedung Fakultas Tarbiyah. Disanalah aku melihat Habibah. Dia begitu unik, lain dengan wanita lain pada umumnya. Orang bilang dia tomboy, keras, suka musik, dan harus dipenuhi keinginannya. Hari itu ternyata Allah telah mempertemukan aku dengan seorang wanita yang sampai detik ini aku masih mencintainya.
            Mulai hari itu aku jatuh cinta padanya. Namun aku takut mengatakan kalau aku suka padanya. Mungkin semua orang beranggapan kalau aku sudah gila karena jatuh cinta kepada gadis yang memukul meja sebagai alat musik ketika dosen belum datang, selalu pakai celana, nggak bisa pakai jilbab, lantang suaranya dan masih banyak lagi yang sepantasnya seorang wanita tidak boleh melakukannya.
            Namun Allah membuka mata ini tuk lebih jauh melihat, melapangkan hati ini tuk lebih dalam memahami karakteristik seorang Habibah. Hingga mulut ini berani mengatakan kalau aku mencintainya. Ternyata dia juga cinta kepadaku. Tepatnya waktu, tanggal dan bulan ini dia mengatakan kalau menerima aku apa adanya sebagai kekasih hatinya. Hari itu ku kenang sebagai hari jadiku bersamanya dan hari hadiah tuk bunda.
Cinta ini tumbuh seiring waktu yang berjalan. Seribu rintangan selalu kita hadapi bersama, hari ini putus besok nyambung lagi. Dia begitu setia dengan cintanya. Dia berharap suatu hari nanti kita akan hidup bersama, memiliki anak dan keluarga yang bahagia. Karena cinta yang begitu besar hingga tiap malam tahun baru dan tiap malam di bulan Ramadhan aku selalu memohon kepada Allah agar Habibahlah jodohku yang akan selalu disisi ini sampai ajal menjemputku.
Dia selalu ada ketika ku butuhkan. Selalu hadir temani hari – hariku baik ketika suka maupun duka. Dia rela menjagaku sepanjang malam ketika semua orang terlelap. Sedetikpun matanya tak mau berkedip ketika melihat tubuhku terbaring sakit di atas ranjang tua rumah sakit selepas aku operasi usus buntu. Diri ini adalah harapan dan impian hidupnya. Dalam tubuh ini ada kehidupan bermakna cinta melalui sesuap nasi dan segelas air yang pernah dia berikan untukku. Dalam detak jantungku ada cinta yang selalu dia curahkan untukku. Disetiap langkahku ada amanah cintanya. Dan sepanjang hidupku ada kasih sayang yang tercipta dari hati yang tulus suci hanya untuknya.
Dia rela berubah untukku. Dia yang dulu tomboy kini berubah menjadi Habibah yang feminim. Dia yang dulu keras kini berubah menjadi lemah lembut, penyayang, ikhlas dalam berbagi, lugu, cengeng, dan cintanya semakin tumbuh. Meskipun terkadang sering marah, cembrut seperti anak – anak. Kasih sayangnya yang tak ternilai untukku itulah yang membuatku ingin hidup dengannya. Bagiku dia bukan sekedar sosok wanita yang aku cintai tapi dibalik itu aku memperoleh segudang ilmu darinya. Dia mampu mengajariku arti sebuah cinta, pengabdian, pengorbanan, kesetiaan, keteguhan hati, kesabaran, dan menghargai kelemahan orang lain. Dia juga sering mengajariku mengaji dengan tajwid agar setiap huruf dari al – Qur’an mendapatkan haknya masing – masing baik dari segi lafadznya maupun dari segi panjang-pendeknya bacaan. Hingga suatu hari aku menyebutnya “guru”.
Dia beda dengan wanita lain. Dalam hatinya begitu berakar arti sebuah kesabaran. Baginya kesabaran adalah kunci dari seribu pintu kesuksesan. Itulah ilmu yang sulit dan jarang orang bisa memilikinya. Aku berharap dialah pendamping hidupku nanti.
Sudahlah, masih banyak lagi keistimewaan yang dia miliki dan ku tak akan sanggup menyebutkannya.
“Hari ini kalian sudah tahu bahwa hati ini tak akan sanggup melupakan Habibah dan berhentilah untuk memikat hatiku. Masih banyak lelaki di luar sana yang lebih baik dari kakak”, usai ceritanya.
“Maafin kami kak, selama ini sudah mengganggu hati kakak. Liska dan Dewi berharap semoga suatu hari nanti kakak mampu mendapatkan cinta sejati kakak, sekali lagi maafin kami kak”, ujar keduanya.
Mulai sejak itu kedua orangtuanya tidak mau mengusik atau membuat rencana lagi untuk memaksa Dang cepat – cepat menikah. Mereka mulai mengerti akan perasaan anaknya bahwa hanya Habibahlah yang mampu meluluhkan hatinya.
Tibalah suatu hari Dang dapat tugas dinas dari sekolah untuk mengikuti sebuah acara di Mataram. Dengan senang hati dia menerima tugas tersebut dan berniat akan mampir di rumah Bapak TGH. Ahmad Rifa’i ketika pulang ke Sumbawa sehabis tugas tersebut selesai.
Sampai di Mataram dia bertemu dengan sahabat karibnya yakni Habibi. Kebetulan pada saat itu Habibi juga mengikuti acara tersebut. Namun ada yang beda dengan Habibi, tubuhnya sudah agak gemuk ditambah lagi ternyata dia sudah menikah dengan wanita yang dia impikan sejak dibangku kuliah, dia adalah Yana teman kelas Dang juga waktu kuliah. Mereka banyak berbagi cerita. Tanpa ada kabar ke Sumbawa ternyata banyak teman – teman kelas dulu yang sudah menikah.
“Terus bagaimana dengan Habibah, kamu masih jalan dengannya kan?”, Tanya Habibi.
“Ceritanya panjang Bi, Jujur kalau aku masih mencintainya dan begitu berharap kalau suatu hari nanti aku bisa hidup dengannya, tapi aku tidak tahu apakah Habibah masih mencintaiku atau tidak”, jelasnya.
“Wah, jangan – jangan Habibah sudah nikah dengan laki – laki lain”, tambah Habibi lagi.
“Aduh, jangan gitu donk Bi, terus aku sama siapa?”, Tanya Dang.
“Ya… sama Nifa aja”, jawab Habibi.
“Yang benar aja kamu ini, terus gimana kabarnya dia dengan Ahmad”, Tanya Dang lagi.
“Ya..ya maaf. Aku bercanda. Seingatku 3 bulan setelah kita wisuda, Ahmad langsung melamar Nifa. Jadi mereka sudah meried. Itupun aku di kasitahu ma Habib. Kebetulan kemarin itu dia ma Endang yang pergi ke acara pernikahan mereka. Tahu kan anak – anak kelas B paling kompak di Matematika”, jawab Habibi.
“Kamu ini nanya – nanya orang nikaaah aja. Terus kamu nikahnya kapan?”, Tanya Habibi lagi.
“Segera, ntar aku undang semuanya. Tapi belum tahu ni dengan siapa aku akan menikah. Cintanya Habibah masih melekat dihatiku dan begitu sulit untuk ku hapus. Biarlah, aku juga tidak mau cinta ini pergi dariku”, jawab Dang.
“Adik juga kak”, tiba – tiba datang suara dari belakang.
“Adik juga rindu, cinta dan tidak akan menghapus cinta ini dari hati adik”, ternyata itu suara Habibah.
“Bibah!, kamu juga ikut acara ini?”, sambung Habibi.
“Ya”, jawabnya.
Setelah itu Habibi pergi dan membiarkan sahabat karibnya itu melepas kerinduan bersama orang yang dia cintai.
“Suamimu mana?”, Tanya Dang.
“Ini dia di depanku”, jawab Bibah sambil menunjuk kearah Dang.
“Bukannya kamu sudah menikah kata Bapak?”, Tanya Dang.
“Kakak bercanda kan?, demi Allah adik belum menikah. Dari saat kakak meninggalkan pondok dulu tiap pagi adik selalu berdiri depan pintu gerbang menanti kakak kembali lagi, meskipun sedetik ingin rasanya adik menatap wajah kakak. Adik begitu merindukan kakak. Anak – anak di pondok juga sering nanya kapan kakak kembali. Namun adik hanya bisa diam terpaku, tak bisa jawab apa – apa. Adik menunggu dan terus bertanya kapan kakak datang?. Adik mohon setelah acara ini usai, kakak pergi temui bapak lagi. Katakan kalau kakak sangat sayang dan ingin menikah dengan adik”, pinta Habibah dengan wajah lugu.
“Kak Ibi dan Habib gimana?, apakah mereka masih di Mesir?”, Tanya Dang lagi.
“Kak Ibi dah selesai studynya, kebetulan Habib lagi liburan jadi mereka berdua pulang dan sekarang ada di pondok”, jawab Habibah.
“Baiklah, nanti kita pulang bareng ya, terus kakak mampir di rumahmu. Masalah pernikahan ntar dah kakak pikir – pikir lagi soalnya takut gagal lagi”, jelas Dang.
Setelah acara tersebut selesai mareka langsung pulang ke Beleka – LOTENG untuk menemui Bapaknya Habibah. Sampai disana Dang disambut dengan senyum bahagia akhirnya pangeran pulau seberang kembali lagi. Namun ada satu wajah yang masih sembunyi. Benar, itu adalah kak Ibi. Beliau belum bisa menerima kehadiran Dang dalam keluarga itu, hingga bersikeras untuk menolak adiknya menikah dengan Dang.
            Meskipun demikian Bapak ingin agar Dang tinggal beberapa hari lagi di pondok untuk mengajar sekaligus mengobati rindunya para santri karena sudah lama berpisah. Namun kak Ibi tetap berupaya mencari cara bagaimana Dang cepat kembali ke Sumbawa dan tidak menikahi adiknya. Melihat keadaan tersebut Dangpun mengerti dan memutuskan untuk segera kembali ke Sumbawa. Namun Habibah tidak menginginkan Dang pulang, jikapun pulang harus dengannya. Sampai suatu malam setelah sholat jama’ah di Musholla samping rumah mereka duduk berdua dengan pandangan jauh. Dang duduk dekat mimbar dan Habibah menyandar di pintu.
            “Kenapa kakak tidak bawa adik lari dari sini agar kakak bisa hidup dengan adik?, adik ikhlas kak meninggalkan semua ini asalkan adik bisa hidup dengan kakak, kemana dan dimanapun kakak akan bawa, adik rela kak!”, kata Bibah.
            “Maksudmu, kita kawin lari?”, Tanya Dang.
            “Ya, terus gimana lagi kalau bukan, ini satu – satunya jalan agar kita tetap bersama”, jawab Bibah.
            “Nggak Bah, kakak tahu adat disini umumnya kawin lari tapi kakak sudah berjanji kepada Ma’ dan Ua’ kalau kakak tidak akan kawin lari, disamping itu juga kakak tidak mau merusak nama baik keluargamu disini. Dinda, jika memang benar Allah berkehendak kita jodoh maka pasti ada jalan lain yang lebih baik dari ini. Bersabarlah…..”
            “Cukup, hentikan semua omong kosongmu. Kau anak Sumbawa yang sombong sekarang juga kau pergi dan kembali ke kampong halamanmu, aku muak melihat wajahmu. Dan kau Bibah masuk ke kamarmu”, suara lantang dari Habibi yang sudah mendengar pembicaraan mereka berdua.
            Tanpa berfikir panjang malam itu juga anak Sumbawa itu pulang. Bapak dan Ibu keheranan tiba – tiba tanpa permisi Dang pulang tidak seperti biasanya. Bibahpun menangis dalam hatinya marah melihat tingkah kakaknya yang begitu kasar kepada Dang.

Akankah kesedihan Habibah berakhir…?????
Akankah Habibah kehilangan Dang untuk kedua kalinya…?????

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan Kuliah

Syaharuddin Al Musthafa