Jumat, 03 Februari 2012

PUTRI BELEKA (5)


Tiba – tiba diruang tamu berdiri dengan pisau tajam di tangannya, Habibah ingin bunuh diri. Namun kejadian itu bisa diatasi karena Habib yang lagi nonton TV dengan ilmu silatnya langsung menikam kakaknya dan berhasil mengambil pisau tersebut. Suasana menjadi sepi, semua keluarga duduk terdiam, terpaku, tanpa satu katapun terucap. Tiba – tiba Habibah berdiri dan berjalan ke depan kakaknya.
“Apalah arti sebuah gelar jika kau tak mampu memaknainya. Jauhnya Al – Azhar kau pergi menimba ilmu namun ucapanmu lebih tajam dari sebilah pedang. Kau sakiti hati orang yang tak bersalah.
Salahkah dia mengejar tujuan hidupnya?
Salahkah dia karena berani mencintai adikmu ini?
Dan salahkah adik memilih orang yang adik cintai?
Di mata kakak dia adalah anak paling sombong yang pernah kakak temui. Tapi di mata semua orang dia bagai malaikat yang begitu mulia dan mau berbagi dengan orang lain.
Ingat ketika adik masih kuliah. Kakak tahu siapa yang menjaga adik di kampus? Siapa yang menyuapi adik ketika adik sakit di kampus? Siapa yang ngajari adik belajar Matematika hingga hari ini adik bisa Matematika? Siapa yang rela meluangkan waktunya temani adik kemana – mana?. Hanya dia kak. Dia orang yang kakak usir dari rumah ini.
Ingat juga ketika kakak masih di Mesir. Kakak tahu siapa yang melamar adik hingga dia harus menghafal 2 jus al-Qur’an, puasa 30 hari, memimpin pondok sambil mengajar Matematika bahkan rela menunggu kakak kembali ke sini?. Dia adalah orang yang kakak usir dari rumah ini. Sudah tiga tahun kak, adik menunggu hari ini datang tapi kenapa kakak hancurin semuanya.
Bagaimana jika kakak berada di posisi adik? Melihat orang yang paling kakak cintai di usir dan tidak pernah dihargai perjuangannya?. Jawab kak, jawab!.
Kenapa?, kenapa diam?, apakah Al – Azharmu tidak mengajarimu tentang bagaimana menghargai perasaan orang lain?.
Tapi cukup. Cukup sampai disini adik tersiksa. Adik tak akan bicara tentang nikah lagi. Hari ini kakak usir orang yang menurut adik mampu membuat adik bahagia. Tapi setelah ini kakaklah yang harus membawa seorang lelaki yang menurut kakak pantas untuk adik tercintamu ini”. Keluh Habibah.
Suasana diam itu berubah menjadi tangisan. Bapak Ibu merasa gagal dalam mendidik anak, kak Ibi merasa menyesal, Habib dan Khotib ikut menangis lihat Habibah begitu teguh dan tulus cintanya kepada kak Dang. Mulai saat itulah kak Ibi sadar bahwa setiap orang berhak untuk mencintai dan dicintai. Cinta habibah hanya pantas untuk Dang karena hanya dia yang begitu mengerti dengan hati adiknya. Habibi mulai sadar begitu besar cinta seorang Dang kepada Bibah, begitu juga sebaliknya. Dari penyesalan tersebut Habibi memutuskan pergi ke Sumbawa untuk meminta maaf kepada Dang sekaligus mengajaknya kembali ke pondok dan menemui adiknya. 

Akankah Habibi mampu membawakan Dang untuk Habibah…?????

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan Kuliah

Syaharuddin Al Musthafa