Jumat, 03 Februari 2012

PUTRI BELEKA (The Last)


Suasana ramai dan banyaknya hiasan bergantungan di rumah Dang membuat Habibi heran hingga gemetarlah hatinya. Dalam hatinya bertanya siapa yang nikah. Tanpa berfikir panjang lebar diapun bertanya kepada salah seorang diantara mereka yang lagi duduk di emperan masjid.
            “Permisi pak, mau nanya. Siapa yang nikah ya pak?”.
            “Ini bukan acara nikah Pak, tapi acara khitan. Yang di khitan itu Husnul anak bungsunya keluarga ini dan Ilham cucunya”, jawab orang itu.
            “Kalau gitu Dangnya ada Pak? Saya ingin ketemu dengannya”.
Habibipun dipersilahkan masuk dan menemui Dang yang kebetulan lagi istirahat di kamarnya.
“Dang, aku minta maaf karena malam itu telah berkata kasar kepadamu”, sapa Habibi.
“Sudah lupakanlah kejadian itu kak. Bahkan sebelum kakak minta maaf saya sudah memaafkan kakak. Mungkin inilah takdir kalau adik kakak bukanlah jodohku dan Allah telah menciptakan wanita yang lebih baik dari dia untukku”, balas Dang.
“Tidak Dang. Justru kedatangan kakak ke sini ingin mengajakmu menemui Habibah dan kakak ikhlas merestui kamu menikah dengannya. Cintanya hanya untukmu. Bagi dia kamulah satu – satunya sosok lelaki yang mampu membuat hatinya bahagia. Kakak mohon ikutlah dengan kakak ke Beleka. Kakak mohon!!!”, mohon Habibi.
“Cukup kak. Kakak tidak boleh memohon seperti itu. Tapi sayangnya hati ini sudah mulai belajar untuk bisa melupakan Bibah. Seorang Dang tidak pantas mendampingi Bibah dan menjadi bagian dari keluarga kakak. Di luar sana masih banyak lelaki yang lebih sempurna dari saya dan pantas mendampingi Bibah. Pulanglah kak, sampaikan salamku untuk Bibah, inilah takdir bahwa cerita cinta kita hanya sampai disini”, jelas Dang.
Dengan hati penuh penyesalan yang diselimuti kesedihan Habibi pulang dengan tangan hampa. Rasa penyesalan yang begitu mendalam membuat dia tidak bisa berbuat apa – apa lagi. Sepanjang hidupnya dia tidak pernah rela melihat tetesan airmata adiknya. Dia begitu sayang kepada adiknya hingga apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan adiknya. Tapi hari itu, dia telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dia telah merampas kebahagiaan itu, dia telah menghancurkan harapan dan impian adiknya untuk menikah dengan Dang. Akhirnya, dia putus asa dan serahkan semuanya kepada Allah.
Mulai saat itu Habibah hanya bisa bersedih, terkadang menangis tanpa sebab, kurang makan, jarang tersenyum atau ketawa dengan orang lain. Melihat keadaan itu, semua penghuni rumah bingung dan mulai mencari cara bagaimana putri satu – satunya itu bisa kembali senyum lagi. Akhirnya, Bapak memutuskan untuk pergi ke Sumbawa membawa Habibah dan dinikahkan dengan Dang karena beliau merasa hanya itu satu – satunya jalan agar putrinya bisa tersenyum lagi. Bersama Ibu, beliaupun berangkat membawa Bibah ke Sumbawa. Setiba disana mereka disambut dengan meriah, karena masyarakat setempat mengetahui dari Dang bahwa yang datang adalah seorang Tuan Guru yang memiliki ilmu agama cukup tinggi. Sehingga perlu dihargai dan dihormati. Tanpa basa basi kemudian didepan semua orang Bapak menyampaikan sesuatu dengan wajah mengarah kepada Dang.
“Ingatlah dulu ketika kau datang menjenguknya. Ku berikan kau baju dan sarung untuk mengganti pakaianmu yang basah karena kehujanan. Dengan rasa hormatmu kepadaku kaupun menerimanya. Dan hari ini, aku datang kepadamu membawa pakaian yang akan kau pakai sepanjang hidupmu. Jika kau tak mau menerimanya sama halnya kau tak menghormati dan menghargai pemberianku”, kata Bapak.
            Lantas Dang menjawab :
Aku bukanlah Daud yang merdu ketika membaca firman Tuhannya
Aku bukanlah Ibrahim yang setia pada perintah Tuhannya
Aku bukanlah Muhammad yang begitu agung akhlaknya
Dan Aku bukanlah malaikat yang taat patuh kepada titah Tuhannya
Aku hanyalah manusia biasa tak berharga
Hanyalah seorang pecinta yang hanya bisa mencintai
Segala urusan dan keputusan ku hanya bisa pasrah
Kepada Allah, pemilik titah cinta itu
Apalah arti sebuah hidup tanpa tujuan
Tapi kau bawakan tujuan itu dengan setulus hatimu
Tujuan hidup yang ingin ku gapai sejak aku dilahirkan
Mencintainya sampai ajal menjemputku
            “Anak Sumbawa ini selalu menghormati dan menghargai pemberian Bapak. Tak berani menolak bukan karena takut tapi karena merasa setiap pemberian Bapak adalah yang terbaik untuk hidupku. Dengan hati ikhlas tulus suci saya menerima pemberian Bapak. Namun bolehkah saya meminta beberapa syarat seperti yang Bapak lakukan ketika saya meminta ingin menikahi anak Bapak?”, Tanya Dang.
            “Boleh wahai anakku, katakan apa permintaanmu”, jawab Bapak.
            “Pertama, saya memiliki seorang adik namanya Husnul dan dua orang keponakan bernama Ilham dan Putri, ijinkan mereka tinggal dan menimba ilmu di pondok yang Bapak pimpin. Kedua, setelah menikah Habibah akan tinggal disini temani saya mengajari anak – anak sini mengaji dan mengkaji ilmu agama. Ketiga, sebulan sekali Bapak harus berdiri di atas mimbar masjid ini untuk menyampaikan pengajian bagi masyarakat disini. Terakhir, mahar pernikahan saya yang tentukan. Apakah Bapak setuju dengan permintaan itu?”, Tanya Dang balik.
            “Tiga permintaanmu yang pertama akan Bapak penuhi. Namun yang terakhir tidak bisa. Karena tanpa sadar kau sudah memberikan mahar pernikahan untuk putriku. Nanti kau akan tahu sendiri”, jawab Bapak.
            Hari itupun berlalu. Dang dan Bibah akan menikah tiga hari lagi karena atas permintaan Dang. Mereka akan menikah dihari ulang tahun Habibah tepatnya pada tanggal 4 April 2014. Saat itu Dang berumur 26 tahun dan Habibah berumur 24 Tahun.
            Dalam waktu dua hari itu pihak keluarga Dang harus mengirim Undangan Pernikahan ke berbagai daerah. Undangan harus dikirim kepada keluarga Dang yang ada di makassar (SULSEL), di Dompu, Bima, sebagian besar kawasan Sumbawa, Mamben (LOTIM), dan teman – teman kuliah Dang dulu. Sementara di Beleka, untuk menebus kesalahannya kak Ibi mengajak seluruh keluarga dan para santri yang ada di pondok pergi ke Sumbawa untuk menyaksikan pernikahan Dang dan Habibah. Tak terasa hari yang ditunggu - tunggu itupun tiba.
            Setelah Bapak TGH. Ahmad Rifa’i menikahkan anaknya dengan Dang, beliaupun naik di atas mimbar untuk memberikan ceramah dan amanah kepada seluruh masyarakat yang hadir. Kemudian beliau menutup ceramahnya dengan berkumandang.
“Wahai engkau pangeran Sumbawa……..
“Dua jus Al-Qur’an hafalanmu adalah mahar yang akan kau bacakan untuk masyarakat tempat tinggalmu bersama putriku setelah menikah ketika sholat berjama’ah karena engkau akan jadi imam. Puasa 30 hari akan mencuci jiwa dan ragamu agar keturunanmu menjadi anak yang sholeh – sholehah dan itulah mahar termahal yang akan kau berikan untuk keluarga ini khususnya putriku. Jabatan sebagai pimpinan pondok adalah mahar yang kau berikan untuk kemajuan pondok ke depan dan itu akan mengajarimu bagaimana hidup bertanggungjawab sebagai seorang pemimpin. Kemudian menggantikan putriku mengajar Matematika adalah mahar yang kau berikan pada seluruh santri pondok itu. Itulah empat mahar yang telah kau miliki untuk dipersembahkan dihari pernikahanmu dengan putriku. Keempat mahar itu telah mampu membentuk jiwamu menjadi jiwa yang sabar dan tabah serta teguh pada pendirian meski beribu penderitaan yang kau jalani.
Dan engkau wahai putriku, penantian yang begitu panjang serta kepedihan yang berkepanjangan telah melatihmu menjadi seorang istri yang sabar dan tabah setiap menghadapi cobaan, teguh dalam pendirian dan setia pada orang yang kau cintai. Sungguh, hari ini Allah menepati janji – Nya untuk kalian berdua”, usai ceramah Bapak.
            Para hadirin terharu dan bangga pada cerita cinta mereka. Sebuah kisah yang begitu banyak mengandung pelajaran penting untuk dipetik.
            Setelah sekian lama hidup bersama. Mereka dikarunia tiga orang anak. Anak pertama bernama Ahmad Al Musthafa yang diambil dari nama kedua kakeknya, anak kedua bernama Husnul Habibah yang diambil dari nama Ibunya. Terakhir bernama Habibi Al Musthafa yang diambil dari nama Paman dan kakeknya. Setelah dewasa Ahmad Al Mustafa menjadi Tuan Guru di Beleka meneruskan perjuangan kakek dan pamannya untuk mengembangkan pondok pesantrennya. Husnul Habibah menjadi dokter spesialis Bedah di Rumah Sakit Umum Sumbawa. Sedangkan Habibi Al Musthafa hanya mencapai gelar sarjana muda (S1) karena dia ingin menjaga kedua orangtuanya sambil mengurus pondok pesantren yang baru dia bangun bersama Ayah dan Ibunya.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan Kuliah

Syaharuddin Al Musthafa