Minggu, 25 Maret 2012

Rasulullah Menolak Zakat Tsa'labah

***Rasulullah Menolak Zakat Tsa'labah ?***
Tsa’labah selalu shalat berjamaah di masjid Rosulullah siang dan malam. Dari seringnya sujud di tanah dan bebatuan dahinya seperti lutut unta. Suatu hari Tsa’labah keluar dari masjid dengan tergesa-gesa tanpa berdoa dan shalat sunnah. Melihat hal itu Rosulullah menegornya,“ Tsa’labah, kenapa kamu tergesa-gesa keluar masjid seperti berbuatan orang munafik ?.......”.

Mendengar Rosulullah menegornya Tsa’labah menjawab,” Wahai Rosulullah, aku tergesa-gesa keluar karena aku dan istriku hanya punya satu baju, yaitu baju yg aku pakai sekarang ini. Jadi, waktu aku shalat disini istriku sedang telanjang di rumah. Kemudian aku pulang melepas bajuku untuk dipakai istriku menunaikan shalat. Doakanlah aku Rosulullah agar Allah memberi aku harta...!”.

“ Tsa’labah, harta sedikit tapi kamu bisa mensyukurinya itu lebih baik dari pada harta banyak tapi kamu tidak mampu mensyukurinya”,Rosulullah memberi pengertian kepada Tsa’labah akan pentingnya hidup sederhana namun bisa mensyukuri karunia Allah. Mendengar jawaban Rosulullah tidak sesuai harapannya Tsa’labah pulang dengan perasaan tidak puas.

Keesokannya Tsa’labah datang lagi kepada Rosulullah meminta agar didoakan seperti permintaannya kemaren,” Wahai Rosulullah, doakanlah aku agar Allah member aku harta...!”.

Mendengar permintaan Tsa’labah sama seperti kemaren Rosulullah kembali menasehatinya,” Apakah dalam diri Rosulullah tidak terdapat contoh yang baik bagimu ?.... Demi Allah yg diriku ada dalam kekuasaannya, andaikan aku menginginkan gunug-gunug itu menjadi emas dan perak niscaya gunug-gunug itu akan jadi emas dan perak”.

Keesokannya Tsa’labah datang menemui Rosulullah lagi,” Wahai Rosulullah, doakanlah aku agar Allah memberi aku harta. Demi Allah yg telah mengutusmu dg hak sebagai nabi apabila Allah memberi aku harta niscaya aku akan memberikan hak harta tersebut kepada orang yg berhak menerimanya”.

Melihat permintaan Tsa’labah yg tak bisa ditahan lagi ahirnya Rosulullah berdoa,” Ya Allah, berilah harta pada Tsa’labah”.

Rosulullah memberi Tsa’labah seekor kambing betina. Kambing itu dipelihara oleh Tsa’labah dan berkembang dg pesat tak ubahnya perkembangan ulat . Sehingga kota Madinah penuh dg kambingnya Tsa’labah. Tsa’labah ahirnya menyingkir membangun rumah di lembah kota Madinah. Semakin hari kambing-kambing Tsa’labah terus bertambah semakin banyak seperti perkembangan ulat.

Sekarang Tsa’labah hanya bisa shalat berjamaah bersama Rosulullah waktu Dhuhur dan Ashar sementara selebihnya( Maghrib, Isya’ dan Shubuh) dia shalat bersama kambing-kambingnya.

Kambing-kambing Tsa’labah terus bertambah dan bertambah sehingga dg terpaksa dia harus membangun rumah yg jauh dari Madinah. Akibatnya, Tsa’labah hanya bisa menghadiri Shalat Jum’at.

Sungguh ajaib, kambing-kambing Tsa’labah terus beranak pinak. Dia kembali pindah rumah semakin jauh dari Madinah sehingga dia tidak bisa menghadiri shalat dari Jum’at ke Jum’at.

Apabila hari Jum’at biasanya Rosulullah keluar mengunjungi para shabat menanyakan keadaan mereka. Suatu hari Rosulullah teringat Tsa’labah dan bertanya kepada shahabat,” Apa pekerjaan Tsa’labah sekarang ?..”.

“ Wahai Rosulullah, dia sekarang memelihara kambing yg memenuhi lembah-lembah Madinah”, jawab shahabat.

“ Celaka Tsa’labah”, terdengar Rosulullah berdesah.

Allah menurunkan ayat zakat. Rosulullah mengutus dua orang shahabat untuk mengambil zakat. Para shahabat menyambut kedatangan dua shahabat itu dg membayar zakat. Kedua shahabat itu juga mendatangi Tsa’labah meminta zakatnya dan membacakan surat Rosulullah yg didalamnya menjelaskan zakat. Tsa’labah tidak mau membayar zakat . Dia berkata,” Ini adalah pajak atau kembaran pajak. Pulanglah kamu berdua, aku masih mau mempertimbangkan dan memikirkannya”.

Waktu mereka beruda kembali menghadap Rosulullah, Rosulullah berkata kepada mereka berdua, sebelum kedua shahabat itu mengutarakan tentang Tsa’labah,” Celaka Tsa’labah,,,celaka Tsa’labah”.

Kemudian Allah menurunkan Ayat dalam surat At-Taubah

ومنهم من عهد الله لئن اتنا من فضله لنصدقن ولنكونن من الصالحين فلما اتهم من فضله بخلوا به وتولوا وهم معرضون

Dan diantara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah,” Sesungguhnya jika Allah memmberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan nisc aya kami termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling, dan selalu menentang (kebenaran). (Q.S At-Taubah:75-76)

Saat itu didekat Rosulullah ada sahabat dari kerabat Tsa’labah, dia mendengar ayat itu lalu dia keluar mendatangi Tsa’labah dan berkata,” Celaka kamu Tsa’labah. Sungguh Allah telah menurunkan ayat tentang kamu”. Kerabat Tsa’labah itu bercerita dg lengkap.

Tsa’labah keluar mendatangi Rosulullah dengan membawa zakat. Rosulullah berkata,” Sungguh Allah telah melarang aku untuk menerima zakatmu”. Mendengar kata Rosulullah, Tsa’labah menaburkan debu ke kepalanya. Rosulullah berkata lagi,”Inilah perbuatanmu. Sungguah aku telah memerintah kamu namun kamu tidak mau mematuhiku”.

Setelah Rosulullah wafat, Tsa’labah datang kepada Kholifah Abu Bakar dengan membawa zakat. “Terimalah zakatku !..” kata Tsa’labah namun shahabat Abu Bakar tidak bersedia menerimanya,”Rosulullah saja tidak mau menerima zakatmu apalagi aku. Gimana aku bisa menerima zakatmu padahal telah ditolak Rosulullah”, Kholifah Abu Bakar memberi alasan.

Waktu sahabat Umar menjadi Kholifa, Tsa’labah membawa zakatnya kepada Kholifah Umar, “Terimalah zakatku !..”. Kholifah Umar berkata,” Rosulullah dan sahabat Abu Bakar sudah tidak menerima zakatmu. Aku tak bisa menerimanya”.

Waktu sahabat Usman menjadi kholifah, Tsa’labah membawa zakatnya kepada kholifah Usman,” “Terimalah zakatku !..”. Kholifah Usman berkata,” Mereka sudah tidak bersedia menerima zakatmu. Maaf aku juga tak bisa menerima zakatmu”.

Alkisah Tsa’labah mati di masa kholifah Usman. Semua siksaan ini akibat kikir, cinta dunia, dan mengingkari janji. “ Tanda orang munafik ada tiga: apabila berkata berdusta, apabila berjanji tidak ditepati, dan apabila dipercaya(diberi amanah) hianat”, al-hadis.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan Kuliah

Syaharuddin Al Musthafa