Senin, 02 Juni 2014

Pidato: Pendidikan - Jangan Menunggu Hari Esok



JANGAN MENUNGGU HARI ESOK


Assalamu’alaikum Wr Wb
PENDAHULUAN
Taruna Dadara Samawa yang Saya Hormati.
Langkah pertama kita meninggalkan rumah dan datang di tanah rantauan ini adalah sebuah bentuk ikrar kita kepada tanah Samawa sebagai tanah kelahiran kita untuk giat dalam belajar, rajin dalam ibadah, dan gigih dalam mengejar cita-cita. Sikap ini merupakan suatu manajemen yang harus kita jaga dan ingat selalu bahwa tujuan kita ke sini adalah untuk kembali membangun dan memberikan yang terbaik untuk tanah Samawa. Oleh sebab itu, mari kita kembali kepada tujuan utama kita melangkah ke tanah rantauan ini.
            Belajar tidak mesti di kampus, bisa di luar kampus seperti kegiatan-kegiatan ekstra kampus yang mampu memberikan kita kemampuan lebih dan pengalaman yang luas. Namun bukan berarti kita lalai atau lupa pada tugas utama kita yaitu kuliah. Jangan terlalu seperti kutu buku, jangan pula berpegang teguh pada pribahasa “biar lambat asal selamat”. Karena dalam proses peningkatan kualitas pribadi tidak boleh ada kata terlambat. Semua harus dilakukan dengan cerdas, cermat, efisien, efektif, dan maksimal.

Taruna Dadara Samawa yang Saya Banggakan.
            Kita harus sadari bahwa di pundak kita ada beban yang berat, yakni masa depan bangsa ini lebih khusus masa depan Tanah Samawa. Oleh sebab itu, mari kita buka mata hati kita untuk belajar tanpa henti sampai batas waktu kita selesai studi atau wisuda di tanah rantauan ini, sehingga kita benar-benar siap untuk mengabdikan semua ilmu pengetahun yang kita miliki untuk tanah kelahiran kita. Jika hari ini kita bermalas-malasan, maka sama halnya dengan beban itu kita berikan kepada orang lain atau orang asing. Terakhir dari kisah kita akan tetap di jajah, semua kekayaan alam kita di tanah Samawa akan dirampas, sama halnya Newmont yang sekarang kita hanya menikmati persenannya saja. Itu semua bukan salah pemerintah, bukan salah orangtua kita yang membiarkan tanah kelahiran kita dikeruk kekayaannya sampai habis, tapi ini adalah salah kita sebagai generasi penerus yang selama ini sekolah asal-asalan, salah kita yang meninggalkan rumah dengan seribu semangat, tapi sampai di sini kita bermalas-malasan, hanya makan tidur, nongkrong, bahkan sampai pindah kampus karena kita jadi MAPALA alias mahasiswa paling lama.

Taruna Dadara Samawa yang Saya Cintai.
            Hari ini, bukanlah waktunya kita bermalas-malasan, bukan pula waktunya kita saling menyalahkan. Tapi waktunya kita bersatu padu untuk masa depan Tanah Samawa, oleh sebab itu ada beberapa pesan yang ingin saya sampaikan:
Pertama, Bangkitkan semangat kita laksana semangat pertama kita meninggalkan rumah dulu, karena dengan demikian, kita akan berpikir bagaimana cara agar bisa sukses dan membahagiakan orangtua.
Kedua, Jangan berpikir siapa diriku, tapi berpikirlah siapa kita. Karena dengan demikian kita akan selalu bersama, sikap egois mari kita buang jauh-jauh. Karena dengan bersatulah kita hanya bisa membangun tanah Samawa ke arah yang lebih baik.
Ketiga, Mari kita perluas jaringan silaturrahmi. Selama ini kita sebagai anak kelahiran Samawa dikenal sebagai golongan orang-orang pelit, egois, dan ingin menang sendiri. Mulai hari ini mari kita kubur dalam-dalam sikap tersebut dan tumbuhkan sikap saling peduli dan saling menghargai.
Terakhir, Tumbuhkanlah sikap jujur, adil, dan bijaksana dalam diri kita. Mulailah jujur dari diri sendiri, bersikap adillah dengan sesama, dan bijaksanalah dalam mengambil keputusan agar di kemudian hari kita tidak menyesal serta kelak kita benar-benar dikatakan generasi penerus yang bermanfaat untuk Tanah Samawa pada khususnya dan untuk Bangsa ini pada umumnya.

Sanak Swai Selaki Se-Tanah Kelahiran.
            Mari kita bersama-sama berpikir, siapa kita dan untuk apa kita dilahirkan ke dunia ini?. Jawaban paling sederhana adalah bahwa kita adalah Taruna Dadara Samawa yang dilahirkan dari intisari Tanah Samawa, sehingga jelas bahwa tujuan kita dilahirkan adalah belajar dengan baik agar kita bisa menjaga dan melestarikan tanah kelahiran kita. Lakukan perubahan pada diri pribadi masing-masing mulai detik ini juga. Jangan menunggu hari esok, karena belum tentu hari esok nafas ini masih ada.
Sanak Swai Selaki, Mungkin ini yang dapat saya sampaikan, mudahan ada manfaatnya bagi kita semua. Mohon maaf atas kekurangannya, akhir kalam. Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan Kuliah

Syaharuddin Al Musthafa