Foto Bersama Panitia UAS Semester Ganjil 2013 di Jurusan Pendidikan Matematika IAIN Mataram.

Syukuran Anak-anak Kos 27A Ketintang Surabaya 2013.

Acara Akad Nikah di Beleka - Praya Timur, 26 Januari 2014.

Acara Seminar Nasional Matematika di UNS Surakarta 2013.

Depan DTC Surabaya. Keliling Surabaya Bersama 3 Mahasiswa Pascasarjana UNS Surakarta. 2013.

Monday, 2 June 2014

Puisi Sosial : Teluk Tak Bermuara



TELUK TAK BERMUARA

Oleh: IKPPM Tarano

Kau laksana raja rimba kehilangan tahta
Punggung waktu kau tikam dalam kebengisanmu
Merasa lebih sempurna padahal paling hina
Kelak kau kan celaka di ujung jalan

Hingga perut zaman terburai
Kau tetap mengotori sungai-sungai yang tak lagi bermuara
Menyebar anyir darah dan nista
Hingga pucuk generasi tergores tak tersisa

Kau laksana raja rimba kehilangan tahta
Tersayat urat malu tanah Samawa
Terus mengasah pisau dengki di batu purba
Tak risau dengan malaikat pemberi aba-aba

Raja rimba ...
Kau hanyalah anak rantauan tak pasti arah
Kembalilah ke hakikat sejatimu
Anak Samawa syarat makna
Karena kau bukan teluk tak bermuara

Wahai raja rimba ...
Kau bukan teluk tak bermuara
Kau pucuk dari hutan seribu seroja
Pantang bagimu tak berarah
Hingga kelak kau kan jadi pengarah

Wahai raja rimba ...
Seroja tak pernah layu
Tiu kulit tak pernah kering
Tambora tak pernah runtuh
Karena Batara Samawa kaulah rimbanya

Kau rimba anak rantauan
Kedipan mata adalah lalaimu
Henti nafas adalah sejarahmu
Hingga prasastimu kan selalu dikenang

Raja rimba
Inilah nasehat sejatiku untukmu
Tak terurai bukan salahku tapi salahmu
Rungan mampis tanah Samawa ada di pundakmu
Kau bawa kemana?
Terserah ...

Puisi Budaya : Serojamu Hilang



SEROJAMU HILANG
                                                                                               
                                                                                                            Oleh: IKPPM Tarano

Warna keemasan yang mempesona
Terpancar dari wajah anggunmu
Terbias di setiap sudut jejakmu
Tapi, ku tahu itu semua palsu

Berdiri tegak laksana seroja seribu tangkai
Menebar aroma tak bernoda
Bagikan rasa tak berbisa
Tapi, ku tahu itu semua palsu

Aku menatap mu wahai samawaku
Penuh noda tak putih lagi
Pewarismu telah meninggalkanmu
Hingga warna tak serupa lagi

Biarkanlah semua rasa sesal tenggelam
Dari bayangan kelam kehidupan
Dari antek-antek anak rantauan tak bermoral
Dari taruna dadara yang mengganti seroja dengan parasit kehidupan

Kau sang predator yang bebas
Tak menatap akan tingginya tambora
Tak memegang erat serojamu yang bertahta
Hingga kau lepas, bebas, serojamu hilang

Kau laksana sang raja rimba yang kehilangan tahta
Bengis, menindas semua aliran nadimu
Keringat, nasehat, dan seribu bait do’a suci orantuamu
Tak lagi kau rangkul di setiap langkahmu

Serojamu hilang ...
Samawa terlumuri hitam yang pekat
Anak dungu bukan lagi rantauan
Kau sang raja rimba yang kehilangan tahta

Kau singa yang bebas disini
Bermain dalam untaian puisi penuh kebohongan
Pemburu maya tak berampun
Penebar noda dan nista kehidupan

Raja rimba, sadarlah ...
Serojamu tertanam diujung tingginya tambora
Jadi khas sejatimu dalam setiap sudut kehidupan
Kembalilah sebelum matamu tertutup selamanya.

Puisi Pendidikan : TAMBORAKU



TAMBORAKU

                                                                                                            Oleh: IKPPM Tarano

Deruan angin menerpa tubuh tuamu
Dingin, menyelimuti langkah penuh keikhlasan
Renungan hanya untuk sebuah keberhasilan
Berfikir untuk kebahagiaan dan masa depanku

Tiada lafaz seindah nasehatmu
Tiada hari tanpa sebuah bakti
Tiada hari tanpa tetesan keringat
Dan tiada hari tanpa tetesan airmata dalam do’amu

Hari demi hari begitu cepat berlalu
Tiada rasa jenuh terpancar di wajahmu
Memberikan kasih sayang tiada rasa jemu
Untuk keberhasilan, cita-cita, dan masa depanku

Tamboraku ...
Ku tau langkahmu penuh pengorbanan
Malaikat Tuhan yang berkorban suci dan ikhlas
Tiada ternilai, meski kutukar dengan langit dan bumi

Oh Tamboraku ...
Engkau laksana lampu dalam kegelapan
Memberi tak pernah meminta balasan
Sarjanaku itulah senyum terindahmu
Akhir dari tangisan dan kerinduanmu

Tamboraku ...
Maaf jika tak setulus hatimu
Maaf jika tak sebesar perjuanganmu
Maaf jika aku lalai dari nasehatmu
Maaf jika aku bermain api di tanah rantauan ini

Tamboraku ...
Bantu raga ini berdiri teguh
Dalam dekapanmu aku berteduh

Pidato: Pendidikan - Jangan Menunggu Hari Esok



JANGAN MENUNGGU HARI ESOK


Assalamu’alaikum Wr Wb
PENDAHULUAN
Taruna Dadara Samawa yang Saya Hormati.
Langkah pertama kita meninggalkan rumah dan datang di tanah rantauan ini adalah sebuah bentuk ikrar kita kepada tanah Samawa sebagai tanah kelahiran kita untuk giat dalam belajar, rajin dalam ibadah, dan gigih dalam mengejar cita-cita. Sikap ini merupakan suatu manajemen yang harus kita jaga dan ingat selalu bahwa tujuan kita ke sini adalah untuk kembali membangun dan memberikan yang terbaik untuk tanah Samawa. Oleh sebab itu, mari kita kembali kepada tujuan utama kita melangkah ke tanah rantauan ini.
            Belajar tidak mesti di kampus, bisa di luar kampus seperti kegiatan-kegiatan ekstra kampus yang mampu memberikan kita kemampuan lebih dan pengalaman yang luas. Namun bukan berarti kita lalai atau lupa pada tugas utama kita yaitu kuliah. Jangan terlalu seperti kutu buku, jangan pula berpegang teguh pada pribahasa “biar lambat asal selamat”. Karena dalam proses peningkatan kualitas pribadi tidak boleh ada kata terlambat. Semua harus dilakukan dengan cerdas, cermat, efisien, efektif, dan maksimal.

Taruna Dadara Samawa yang Saya Banggakan.
            Kita harus sadari bahwa di pundak kita ada beban yang berat, yakni masa depan bangsa ini lebih khusus masa depan Tanah Samawa. Oleh sebab itu, mari kita buka mata hati kita untuk belajar tanpa henti sampai batas waktu kita selesai studi atau wisuda di tanah rantauan ini, sehingga kita benar-benar siap untuk mengabdikan semua ilmu pengetahun yang kita miliki untuk tanah kelahiran kita. Jika hari ini kita bermalas-malasan, maka sama halnya dengan beban itu kita berikan kepada orang lain atau orang asing. Terakhir dari kisah kita akan tetap di jajah, semua kekayaan alam kita di tanah Samawa akan dirampas, sama halnya Newmont yang sekarang kita hanya menikmati persenannya saja. Itu semua bukan salah pemerintah, bukan salah orangtua kita yang membiarkan tanah kelahiran kita dikeruk kekayaannya sampai habis, tapi ini adalah salah kita sebagai generasi penerus yang selama ini sekolah asal-asalan, salah kita yang meninggalkan rumah dengan seribu semangat, tapi sampai di sini kita bermalas-malasan, hanya makan tidur, nongkrong, bahkan sampai pindah kampus karena kita jadi MAPALA alias mahasiswa paling lama.

Taruna Dadara Samawa yang Saya Cintai.
            Hari ini, bukanlah waktunya kita bermalas-malasan, bukan pula waktunya kita saling menyalahkan. Tapi waktunya kita bersatu padu untuk masa depan Tanah Samawa, oleh sebab itu ada beberapa pesan yang ingin saya sampaikan:
Pertama, Bangkitkan semangat kita laksana semangat pertama kita meninggalkan rumah dulu, karena dengan demikian, kita akan berpikir bagaimana cara agar bisa sukses dan membahagiakan orangtua.
Kedua, Jangan berpikir siapa diriku, tapi berpikirlah siapa kita. Karena dengan demikian kita akan selalu bersama, sikap egois mari kita buang jauh-jauh. Karena dengan bersatulah kita hanya bisa membangun tanah Samawa ke arah yang lebih baik.
Ketiga, Mari kita perluas jaringan silaturrahmi. Selama ini kita sebagai anak kelahiran Samawa dikenal sebagai golongan orang-orang pelit, egois, dan ingin menang sendiri. Mulai hari ini mari kita kubur dalam-dalam sikap tersebut dan tumbuhkan sikap saling peduli dan saling menghargai.
Terakhir, Tumbuhkanlah sikap jujur, adil, dan bijaksana dalam diri kita. Mulailah jujur dari diri sendiri, bersikap adillah dengan sesama, dan bijaksanalah dalam mengambil keputusan agar di kemudian hari kita tidak menyesal serta kelak kita benar-benar dikatakan generasi penerus yang bermanfaat untuk Tanah Samawa pada khususnya dan untuk Bangsa ini pada umumnya.

Sanak Swai Selaki Se-Tanah Kelahiran.
            Mari kita bersama-sama berpikir, siapa kita dan untuk apa kita dilahirkan ke dunia ini?. Jawaban paling sederhana adalah bahwa kita adalah Taruna Dadara Samawa yang dilahirkan dari intisari Tanah Samawa, sehingga jelas bahwa tujuan kita dilahirkan adalah belajar dengan baik agar kita bisa menjaga dan melestarikan tanah kelahiran kita. Lakukan perubahan pada diri pribadi masing-masing mulai detik ini juga. Jangan menunggu hari esok, karena belum tentu hari esok nafas ini masih ada.
Sanak Swai Selaki, Mungkin ini yang dapat saya sampaikan, mudahan ada manfaatnya bagi kita semua. Mohon maaf atas kekurangannya, akhir kalam. Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Catatan Kuliah

Syaharuddin Al Musthafa