Minggu, 25 Maret 2012

KHOLIFAH UMAR DIOMELI ISTRINYA

Ada seorang lelaki datang ke Kholifah Umar bin Khottob ingin curhat masalah buruknya akhlak istrinya. Sesampainya di depan rumah Kholifah Umar dia berhenti menunggu Kholifah. Terdengar istri Kholifah mengomeli Kholifah sementara Kholifah diam membisu tak menghiraukan omelan istrinya.

Lelaki ini membalikkan punggungnya beranjak pergi sambil berkata pada dirinya sendiri,” Apabila keadaan Kholifah sudah seperti ini, maka bagaimana dg keadaan diriku”.

Dia membandingkan dirinya sebagai orang biasa dg Kholifah Umar sebagai pemimpin dan panutan umat yg seharusnya dihormat.

Kholifah Umar keluar, dia melihat lelaki itu sudah balik berpaling pulang. Kholifah memanggilnya.

“ Apa kebutuhannmu datang kemari”, tanya Kholifah.

“ Wahai Amirul Mukminin, maksud kedatanganku tuk curhat kepada anda masalah buruknya akhlak istriku dan kegemarannya mengomeliku. Tp ternyata aku mendengar istri anda seperti istriku juga. Oleh sebab itulah aku bermaksud pulang saja. Aku berkata pada diriku sendiri,’ Apabila keadaan Kholifah sudah seperti ini, maka bagaimana dg keadaan diriku “, lelaki itu menjelaskan maksud kedatangannya.

“ Wahai saudaraku, aku menanggung perlakuan istriku yg seperti itu karena hak-hak yg menjadi tanggung jawabku dikerjakan istriku, dai telah bersedia memasakkan makanan buatku, membuatkan roti untukku, menyuci baju-bajuku dan menyusui anakku, padahal hal itu bukan kewajiban istriku. Aku ingin istriku jauh dari barang haram, maka aku menanggung perlakuannya karena hal tadi”, Kholifah menjelaskan sebab diamnya.

“ Demikian juga istriku(dia telah bersedia memasakkan makanan buatku, membuatkan roti untukku, menyuci baju-bajuku dan menyusui anakku, padahal hal itu tidak wajib bagi istriku)”, lelaki itu mulai memahami apa yg harus dia lakukan.

“Kalau kamu sudah bisa memahami, maka tanggunglah perlakuan yg seperti itu wahai saudaraku, karena hal itu hanya terjadi sebentar”,nasihat Kholifah.

Bercermin dari cerita bijak diatas, apabila tanggung jawab yg seharusnya dikerjakan kita ternyata dikerjakan keluarga maka bersabarlah apabila ada kata-kata tidak enak keluar dari lidah mereka. Tp bukannya tuk mengajari seorang istri berbuat yg tidak baik pada suaminya. Suami punya tanggung jawab dan istri pun punya tanggung jawab. Kehidupan ini akan terasa indah apabila berjalan sesuai tanggung jawabnya

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan Kuliah

Syaharuddin Al Musthafa